Sejarah Desa Pasuruhan Lor

12 Juli 2023 10:07:48

Menurut cerita lisan dari para orang tua dahulu, asal nama Desa Pasuruhan Lor diambil ‎dari sebuah nama daerah di Jawa Timur bernama PASURUAN. Hal ini lantaran leluhur atau ‎cikal bakal yang telah diyakini sejak dahulu dari para orang tua hingga turun temurun sampai ‎sekarang, bahwa Mbah Surgi Murang Joyo adalah pepunden desa yang aslinya berasal dari ‎Pasuruan, Jawa Timur.‎

Konon, dahulu Sunan Kudus mempunyai anak yang berguru pada seseorang di daerah ‎Pasuruan, Jawa Timur. Melihat anaknya yang jauh-jauh mencari ilmu dan berguru sampai ‎daerah Jawa Timur, Sunan Kudus meminta kepada anaknya agar mengajak gurunya ke Kudus ‎untuk mengajarkan ilmunya di Kudus. Atas permintaan Sunan Kudus, kemudian guru anak ‎Sunan Kudus bersedia datang ke Kudus. Guru anak Sunan Kudus tersebut berjalan ke Kudus ‎dengan menggendong anak Sunan Kudus. Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya ‎sampailah di Kudus. Saat melewati pintu kembar Menara Kudus, guru anak Sunan Kudus ‎lemas dan terjatuh di daerah sekitar Jember, sebelah barat Menara Kudus. Melihat kondisi ‎gurunya yang lemas, Sunan Kudus kemudian menyuruh anaknya kembali menemui ‎gurunya, agar membaca syahadat. Setelah menjalani apa yang di perintahkan oleh Sunan ‎Kudus, yaitu membaca syahadat, maka guru anak Sunan Kudus dapat berdiri kembali dan ‎minta agar dipertemukan kepada Sunan Kudus. Singkat cerita, kemudian guru anak Sunan ‎Kudus malah menjadi murid Sunan Kudus.‎

Guru anak Sunan Kudus yang menjadi murid Sunan Kudus, tak lain adalah MURANG ‎JOYO. Setelah sekian lama menjadi muridnya, kemudian oleh Sunan Kudus, Murang Joyo ‎diberikan suatu tempat untuk menetap di sebelah barat daya. Murang Joyo kemudian berjalan ‎menuju ke barat daya, sampai pada suatu tempat di persimpangan yang sekarang dikenal ‎dengan nama Tugu Telon (yang merupakan perbatasan tiga desa Pasuruhan Lor, Prambatan ‎dan Purwosari). Di tempat tersebut, Murang Joyo kebingungan mencari tempat yang dimaksudkan oleh Sunan Kudus. Hingga Akhirnya Murang Joyo melihat ke selatan. Ada kilatan ‎cahaya yang menunjuk sebuah pohon Gandri dan dianggap sebagai pertanda sebagai tempat ‎yang ditunjukkan oleh Sunan Kudus.‎

Selanjutnya, Murang Joyo berjalan ke selatan menuju arah pohon Gandri. Dalam cerita, ‎Murang Joyo diberikan wasiat berupa Kembang Putih (bahasa jawa : Sekar Petak) yang ‎kemudian dikenal menjadi nama sebuah pedukuhan "Sekar Petak". Setelah sekian lama ‎menetap dan mempunyai banyak pengikut, kemudian oleh pengikutnya pedukuhan ini menjadi ‎sebuah desa dan diberi nama PASURUHAN, merujuk dari asal nama daerah Mbah Murang ‎Joyo. Dalam perkembangannya, karena semakin banyaknya masyarakat kemudian Pasuruhan ‎dibagi manjadi 2 bagian yaitu wilayah selatan dan wilayah utara. Untuk wilayah selatan ‎menjadi Desa tersendiri yaitu PASURUHAN KIDUL dan wilayah utara juga menjadi desa ‎sendiri yaitu PASURUHAN LOR.